Kekerasan Terus Meningkat di Belarusia, Panorama Kebudayaan Terancam

- 23 Februari 2021, 12:46 WIB
Pengunjuk rasa di Minks Belarusia. /Reuters

 

JURNAL PRESISI - Kekerasan di Belarusia terus meningkat karena pembangkangan yang terjadi, salah satunya disebabkan upaya legislatif negara itu untuk membuat perundangan yang memasukkan kritikan terhadap pemerintah sebagai tindakan "ekstremisme," diawali dari protes terhadap terpilihnya Alyaksandr Lukashenka kembali.

Melansir Amnesty.org, sejumlah budayawan yang terlibat dalam protes itu ditangkap oleh pemerintah dan ditahan sembari menunggu hukuman.

"Tekanan terhadap panorama kebudayaan Belarusia tidak bisa diabaikan. Pihak berwenang secara metodis menghancurkan kehidupan kebudayaan Belarusia dan para anggotanya yang paling kreatif, dalam upayanya untuk menekan seluruh sisa-sisa dari kebebasan berekspresi dan pembangkangan," ujar Aisha Jung, pengkampanye senior dari Amnesty International di Belarus yang dikutip dalam situs organisasi tersebut pada Senin, 22 Februari 2021.

Baca Juga: AS Dukung Perjanjian Damai di Afghanistan, Menlu AS Tekankan Penyelesaian Politik yang Adil

“Kami tidak akan tinggal diam saat otoritas Belarusia membungkam orang-orang paling kreatif di negara itu. Kampanye solidaritas global kami mendukung semua cara damai untuk protes dan perlawanan rakyat Belarusia, melawan upaya sinis dan jahat pihak berwenang untuk mencabut hak asasi mereka dan membatasi akses mereka ke berbagai ide dan opini,” tambah Aisha Jung.

Vola Semchanka, seorang penyanyi dan penari yang bekerja di Mahilyou State Theatre telah ditangkap dan didenda beberapa kali semenjak Oktober 2020 karena terlibat dalam rapat ilegal.

Baca Juga: 14.754 KK atau 52.527 Pengungsi Akibat Banjir Karawang - Jabar, BNPB: Prioritaskan Distribusi Logistik

"Setelah penahanan pertama saya, saya takut untuk kembali ke rumah, saya tidur di rumah teman setiap malam. Sekarang saya terbiasan dengan kehidupan yang selalu berasa terancam bahaya. Kami semua siap untuk menjadi korban persekusi negara tiap waktu," ujarnya seperti yang dikutip oleh Amnesty International.

Halaman:

Editor: Zaini Rahman


Tags

Komentar

Artikel Terkait

Terkini

Terpopuler

Terpopuler Pikiran Rakyat Network

X