Sebut Data Korban Sipil Kekerasan di Afghanistan Meningkat, UNAMA: Harus Sadari Konsekuensinya

- 24 Februari 2021, 22:01 WIB
BERBAHAYA - Sepak terjang Taliban masih membahayakan di seantero Afghanistan. Ironisnya, militer Selandia Baru akan segera menyelesaikan misi penjaga perdamaian di negara itu.//PIXABAY/ /Kalbar Terkini/Oktavianus Cornelis

 

JURNAL PRESISI - Perjanjian damai antara Emirat Islam Afghanistan/Taliban dengan Amerika Serikat pada Februari 2021 lalu justru meningkatkan kekerasan di Afghanistan yang dibarengi dengan meningkatnya jumlah korban jiwa dari warga sipil.

Melansir dari Aljazeera yang mengutip laporan Misi PBB ke Afghanistan (UNAMA) yang menyatakan bahwa konflik pasca perjanjian damai di negara itu mencapai 8.820 jiwa. Laporan ini dikeluarkan pada Selasa, 23 Februari 2021.

Perjanjian damai yang seharusnya terlaksana mulai September 2020 itu justru melambat dan membuat kekerasan di negara itu semakin memuncak karena ketidakpastian penarikan pasukan internasional yang diposkan di wilayah itu.

Baca Juga: Kroasia Tuntut Dua Orang Mantan Petarung Serbia karena Pembunuhan Wartawan Tiga Dasawarsa Lalu

Deborah Lyons selaku Ketua UNAMA mengatakan bahwa tahun 2020 yang seharusnya menjadi puncak dari perdamaian Afghanistan justru melahirkan kekerasan berkelanjutan yang menelan banyak korban jiwa.

"Kelompok yang menolak gencatan senjata harus menyadari konsekuensinya yang merusak," ujar Lyons. Kelompok yang dimaksud oleh Lyons adalah Taliban.

Laporan itu dikritisi oleh Taliban yang menyampaikan bahwa informasi yang tepat dan akurat yang diberikan kepada UNAMA oleh mereka justru tidak dimasukkan.

Baca Juga: Revisi UU ITE, DPR Minta Langkah Ini Diiringi Dengan 'Political Will' Pemerintah

Halaman:

Editor: Zaini Rahman


Tags

Artikel Terkait

Terkini

X