Dikikis Air Laut dan Ditekan Pembangunan Pesisir, Ekosistem Hutan Mangrove Terancam

- 5 Juni 2020, 15:39 WIB
ILUSTRASI hutan mangrove.*

JURNAL PRESISI - Para peneliti baru-baru ini memprediksi bahwa di tahun 2050 hutan mangrove atau hutan bakau akan kehilangan ekosistemnya akibat kenaikan air laut secara signifikan.

Kenaikan permukaan laut sebesar 6 milimeter per tahun membuat hutan pantai ini terus berjuang dalam habitatnya yang semaki rentan.

Bagaimanapun, dengan adanya hutan mangrove, banyak manfaat yang dapat diperoleh, seperti membantu melindungi garis pantai dari erosi air laut, menyediakan rumah bagi habitat di dalamnya dan menyimpan karbon.

Baca Juga: DKI Jakarta Masuki Masa Transisi PSBB, Aturan Ganjil-Genap Belum Berlaku

Dikutip dari Daily Mail melalui Pikiran-Rakyat.com, peneliti Erica Ashe dari Rutgers University-New Brunswick di New Jersey, Amerika Serikat menganalisis sedimen yang berasal dari 10.000 tahun yang lalu.

Analisis sedimen ini memungkinkan tim peneliti untuk mengeksplorasi bagaimana ekosistem mangrove merespons fluktuasi permukaan laut di masa lalu dan memprediksi bagaimana reaksinya di masa depan.

Sekitar 10.000 tahun yang lalu, permukaan laut mengalami kenaikan sekitar 10 milimeter per tahun, namun menurun ke kondisi yang hampir stabil dalam 4.000 tahun.

Artikel ini sebelumnya telah tayang di Pikran-Rakyat.com dengan judul Tahun 2050 Hutan Mangrove Diprediksi Tak Akan Selamat dari Kenaikan Permukaan Laut

Selama waktu tersebut, perluasan hutan mangrove meningkatkan jumlah karbon yang disimpannya serta membantu kontribusi pada tingkat gas rumah kaca yang lebih rendah.

Para peneliti menemukan bahwa ketika tingkat kenaikan permukaan laut melebihi 6 milimeter per tahun seperti yang diperkirakan akan terjadi di tahun 2050 karena emisi gas rumah kaca yang tinggi maka mangrove tak akan mampu mengimbangi kenaikan permukaan laut.

Halaman:

Editor: Ratri Ni'mah

Sumber: Pikiran Rakyat


Tags

Komentar

Artikel Terkait

Terkini

Terpopuler

Terpopuler Pikiran Rakyat Network

X