Kisah Pilu Keluarga Palestina yang Hidup Primitif di Dalam Gua Akibat Tanahnya Dirampas Israel

- 3 Agustus 2020, 06:00 WIB
Warga Palestina yang bertahan hidup primitif di dalam Gua salama bertahun - tahun /Jurnal Presisi /*/Abdelhadi Hantach/Al-Monitor

JURNAL PRESISI - Munther Abu Aram (48) adalah satu diantara beberapa keluarga Palestina yang terpaksa hidup di dalam gua di kaki pegunungan berbatu di Hebron akibat kesewenangan Israel yang menghancurkan rumah mereka.

Abu Aram menjalani kehidupan primitif di dalam gua kecil seluas 150 meter persegi (500 kaki persegi) terletak di Khirbet Janba wilayah Tepi Barat yang diduduki Israel .bersama istri dan empat anaknya.

Mereka tidak punya pilihan selain tinggal di gua tanpa infrastruktur, listrik, air atau sanitasi setelah rumah mereka dirampas Israel pada tahun 2018.

Melansir dari Al - Monitor sekitar 19 keluarga Palestina/sekitar 100 orang tinggal di gua-gua Hebron selatan, tanpa akses listrik, air, sekolah atau jalan, menurut sebuah laporan Anadolu Turki yang terbit pada bulan Desember 2019.

Baca Juga: Dukung Kemerdekaan Palestina, Presiden Cina Xi Jinping Tegaskan Tolak Aneksasi Israel

"Kehidupan di dalam gua sangat sulit, penjajah Israel menghancurkan rumah saya dan mengusir kami dari Khirbet Janba, mereka menyita tanah dan mengubahnya menjadi daerah militer tertutup dan untuk memperluas pemukiman Kiryat Arba dan pos-pos di sekitarnya," tutur Abu Abu Aram seperti dikutip dari Al-Monitor Minggu 2 Agustus 2020.

Ia menambahkan bahwa otoritas Israel menolak untuk menyediakan listrik dan air kepada Khirbet Janba dan telah menghapus dan menghancurkan beberapa tiang listrik dan jaringan air.

Untuk bertahan hidup sehari – hari Abu Aram dan keluarganya bercocok tanam dan memelihara ternak. Mereka menggunakan gerobak keledai untuk melakukan perjalanan ke kota-kota tetangga untuk membeli air minum dan persediaan lainnya.

Baca Juga: Klaim Uji Klinis Vaksin COVID-19 Hampir Beres, Rusia Berencana Mulai Vaksinasi Massal Oktober 2020

Ia juga menggunakan gerobak keledai itu untuk mengangkut anak-anaknya ke sekolah mereka di desa tetangga yang jauhnya puluhan kilometer.

Halaman:

Editor: Zaini Rahman


Tags

Komentar

Artikel Terkait

Terkini

Terpopuler

Terpopuler Pikiran Rakyat Network

X