Begini Ungkapan Ketidaksetujuan Ketua MUI Menyoal Aliran Investasi Industri Miras

- 1 Maret 2021, 18:43 WIB
Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Muhammad Cholil Nafis Ph.D., /ANTARA/

JURNAL PRESISI – KH Muhammad Cholil Nafis Ph.D., selaku Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) pusat menyatakan tidak bisa melegalkan minuman keras (miras) dengan dalih itu adalah bagian dari kearifan lokal.

“Tidak bisa atas nama kearifan lokal atau sudah lama ada, maka dipertahankan,” ucapnya di Jakarta, Senin, 1 Maret 2021, saat menanggapi kebijakan pemerintah membuka investasi untuk industri aliran keras beralkohol di beberapa provinsi, dikutip dari Antara.

“Saya secara pribadi menolak terhadap investasi miras meskipun dilokalisir menjadi empat pprovinsi saja,” ujarnya.

Investasi tersebut tentu akan menguntungkan segelintir orang saja, namun menurut pendapat Cholil, kerugian besar akan terjadi bagi masa depan rakyat sendiri.

Baca Juga: Partai Republik Desak Joe Biden Boikot Olimpiade di China Menyusul Pernyataan Mantan Duta Besar PBB

“Saya pikir harus dicabut kalau mendengarkan pada aspirasi rakyat, karena ini tidak menguntungkan untuk masa depan rakyat. Mungkin untungnya bagi investasi iya, tapi mudaratnya bagi investasi umat,” lanjut dia.

Lebih lanjut Cholil mengatakan, “karena kita larang saja masih beredar, kita cegah masih lolos, bagaimana dengan dilegalkan apalagi sampai eceran dengan dalih empat provinsi, tapi, kan, nyebar ke provinsi lain, karena hasil investasi tak sebanding dengan rusaknya bangsa ini”.

Ucapan bernada kritikan terhadap pemerintah juga diutarakan wakil ketua umum MUI Anwar Abbas, yang memperbolehkan industri minuman keras.

“Kebijakan ini tampak sekali bahwa manusia dan bangsa ini telah dilihat dan diposisikan oleh pemerintah dan dunia usaha sebagai objek yang bisa dieksploitasi,” ujarnya.

Baca Juga: Jelang Peluncuran Tim PYSRT 2021, Zeelenberg: Kami Lakukan Segalanya Agar Rossi Bisa Podium Kembali

Halaman:

Editor: Harbhimanyu Wicaksono

Sumber: ANTARA


Tags

Artikel Terkait

Terkini

X