Update Gunung Merapi 21 November 2020, Terjadi Gempa Sebanyak 59 Kali

- 22 November 2020, 06:30 WIB
Gunung Merapi difoto dari kawasan Kinahrejo, Cangkringan, Sleman, D.I Yogyakarta, Rabu ( 18/11/2020). Berdasarkan data pengamatan Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta pada Rabu (18/11) pukul 06.00 WIB - 12.00 WIB Gunung Merapi mengalami 16 kali guguran serta 7 kali gempa vulkanik dangkal. ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko/aww. /Andreas Fitri Atmoko/Antara Foto

JURNAL PRESISI – Kabar terbaru mengenai Gunung Merapi yang disampaikan oleh Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) menyatakan pada Jumat, 20 November 2020 mulai pukul 00.00 hingga 24.00 WIB mengalami gempa guguran sebanyak 59 kali selama pengamatan .

Hanik Humaida selaku Kepala BPPTKG memaparkan melalui keterangan resminya di Yogyakarta, Sabtu, 21 November 2020, bahwa selain gempa guguran, selama periode pengamatan tersebut juga tercatat 385 kali gempa hybrid atau fase banyak, 69 kali gempa hembusan, 45 kali gempa vulkanik dangkal, dan satu kali gempa tektonik.

Menurut pengamatan visual di gunung api aktif itu tergambar asap berwarna putih dengan intensitas yang tebal pada ketinggian 50 meter di atas puncak.

Baca Juga: Peran Bidang Kesehatan Ditingkatkan saat Sekolah Tatap Muka Dimulai

Saat periode pengamatan, terdengar suara guguran sebanyak sembilan kali (lemah sampai sedang) dari Pos Pemantauan Gunung Merapi (PGM) Babadan dan satu kali PGM Kaliurang.

Selanjutnya, laju deformasi Gunung Merapi diukur menggunakan electronic distance measurement (EDM) Babadan rata-rata 12 cm per hari.

BPPTKG mempertahankan status Gunung Merapi pada Level III atau Siaga. Potensi bahaya akibat erupsi Merapi diperkirakan maksimal dalam radius lima kilometer dari puncak.

Baca Juga: Wapres Ma’ruf Amin Berencana Bertemu Habib Rizieq, HNW: Musuh Nyata NKRI dan TNI Adalah OPM

Untuk penambangan di alur sungai-sungai yang berhulu di Gunung Merapi dalam kawasan rawan bencana (KRB) III lebih baik untuk dihentikan.

Halaman:

Editor: Zaini Rahman

Sumber: ANTARA


Tags

Komentar

Artikel Terkait

Terkini

Terpopuler

Terpopuler Pikiran Rakyat Network

X