Khutbah Idul Adha Singkat 5 Menit di Masa Pandemi Tahun 2020

- 30 Juli 2020, 21:18 WIB
Khutbah Idul Adha 1441 Hijriah. foto : istimewa /

JURNAL PRESISI – Majelis Ulama Indonesia (MUI) melalui komisi fatwa telah mengeluarkan anjuran terkait pelaksanaan Shalat Idul Adha 2020 di masa pandemi  

Apabila di suatu daerah masih rawan penularan wabah Covid-19 maka dianjurkan agar umat muslim melaksanakan shalat idul adha di kediaman masing - masing dengan diikuti oleh keluarga terdekat. 

Demikian juga dalam pelaksanaan kurban MUI menghimbau agar masyarakat tetap menjalankan protokol kesehatan. 

Baca Juga: Prosesi Haji Dimulai! inilah 10 Potret Penerapan Physical Distancing Haji 2020

Berikut contoh khutbah Idul Adha 1441 Hijriah :

Khutbah I    

لهُ أَكْبَر اللهُ أَكْبَر اللهُ أَكْبَر، اللهُ أَكْبَر اللهُ أَكْبَر اللهُ أَكْبَر، اللهُ أَكْبَر اللهُ أَكْبَر اللهُ أَكْبَر. اللهُ اَكْبَرْ كَبِيْرًا وَالحَمْدُ لِلهِ كثيرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأصِيْلاً لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ اَكْبَرْ اللهُ أَكْبَرْ وَ للهِ اْلحَمْدُ اْلحَمْدُ للهِ اْلحَمْدُ للهِ الّذي هَدَانَا سُبُلَ السّلاَمِ، وَأَفْهَمَنَا بِشَرِيْعَةِ النَّبِيّ الكَريمِ، أَشْهَدُ أَنْ لآ إِلٰهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اللّهُمَّ صَلِّ و سَلِّمْ وَبارِكْ عَلَى سَيِّدِنا مُحَمّد وَ عَلَى أَلِ سَيِّدِنا مُحَمّدٍ أَمَّا بَعْدُ: فَيَاَيُّهَا اْلإخْوَانُ، أُوْصِيْكُمْ وَ نَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ، قَالَ اللهُ تَعَالَى: أَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ، يَا اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. صَدَقَ اللهُ اْلعَظِيْمُ

Ma’asyiral muslimin yang dirahmati Allah
Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan menjalankan semua perintah Nya dan meninggalkan segala larangan-Nya.

Pada hari ini setelah kita menyelesaikan shalat ‘Id, kita disunnahkan untuk berkurban.
Kesunnahan berkurban ini berkaitan dengan sejarah Nabi Ibrahim yang diuji keimanannya oleh Allah untuk melepaskan sesuatu yang paling ia cintai di dunia ini, yakni dengan menyembelih putranya.

Dengan dasar ketaatan kepada Allah yang sangat tulus, dengan latar belakang rasa cinta kepada Tuhan yang mengalahkan segalanya, Nabi Ibrahim benar-benar mantap dan bertekad akan menjalankan perintah-Nya, yaitu menyembelih Isma‘il, orang yang paling ia sayangi.

Halaman:

Editor: Zaini Rahman

Sumber: Berbagai Sumber


Tags

Komentar

Artikel Terkait

Terkini

Terpopuler

Terpopuler Pikiran Rakyat Network

X