Sudahi Perang Opini Mengenai Paradox Ibu Bekerja Vs Ibu Dirumah

- 29 Juli 2020, 09:37 WIB
Peniliti Chaakra Consulting Herlina Eka Subandriyo Putri S.Psi., M.Psi. Foto Istimewa /

SUDAHI PERANG OPINI MENGENAI PARADOX IBU BEKERJA VS IBU DIRUMAH
“Opini sederhana atas keberadaan dan pentingnya menjaga kesehatan mental sosok ibu yang berdampak pada tumbuh kembang dan kebahagiaan anak generasi bangsa”

Herlina Subandriyo, M.Psi.,Psikolog*

Pepatah lama mengatakan bahwa “ Cinta Anak Sepanjang Galah Tetapi Cinta Ibu Sepanjang Masa”. Dari ungkapan ini kita sudah memahami bahkan merasakan cinta kasih seorang ibu pada setiap anaknya mulai dari dalam kandungan bayi, balita, remaja, dewasa untuk mendampingi anak dalam menjalani tugas-tugas perkembangannya (task developmental) secara optimal.

Psikolog perkembangan Havighurst (Dalam Hurlock, 1978) menyatakan bahwa seorang anak yang mampu menjalani tugas-tugas perkembangannya dengan baik akan mampu membentuk kepribadian yang adequate, matang dan sehat baik secara fisik maupun mental. Menjadi seorang ibu merupakan sebuah peran sentral dalam sebuah keluarga, khususnya anak-anaknya. Seorang ibu memiliki peran baik secara biologis seperti; kelahiran & pasca kelahiran, penyedia nutrisi dan kesehatan maupun psikologis seperti; menciptakan kedekatan (attachment), kehangatan, rasa aman (safety) dan sense of personal bagi anak-anaknya (Joanne MacDonald, 2010). Oleh karena itu, untuk menjalani perannya dengan optimal maka terdapat 3 dimensi dari kesehatan (wellness) yang harus dimiliki oleh ibu (Dalam, mothers Mental Health Toolkits, 2010) , antara lain: Body Health (terpenuhinya nutrisi, kecukupan waktu istirahat dan olahraga/gerak aktif); Mental Health (stress management dan informasi/pengetahuan eksternal yang mendukungnya melakukan tugas); Emotional Health (Kesempatan untuk melakukan pengembangan diri/aktualisasi diri).

Baca Juga: Menuju Kenormalan Baru atau Masyarakat Resiko?

Sayangnya, saat ini seiring dengan perkembangan era digital tidak secara serta memberikan pengaruh positif melalui bentuk dukungan emosional namun juga lebih menyudutkan peran seorang ibu yang dilihat dari keberadaannya secara fisik dan kuantitas waktu dengan anaknya, yakni paradox Ibu Bekerja (working moms) maupun ibu yang tinggal dirumah (stay at home moms). Hal ini terlihat dari “perang unggahan” (upload) maupun komentar yang lebih pada membanding-bandingkan tentang siapa yang lebih baik/lebih mulia/lebih superior. Media komunikasi elektronik memberikan peran penting pada perkembangan informasi sekaligus stressor bagi seorang ibu, khususnya diperkotaan (Hall and Irvine, 2009).

Tidak sedikit ibu merasa terpojok, merasa bersalah (feeling guilty) yang berdampak pada kesehatan mentalnya dan secara tidak langsung akan memberikan efek samping pada pola pengasuhan pada anaknya. Di Indonesia sendiri ditunjukkan melalui data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018 mencatat bahwa angka prevalensi depresi perempuan sebesar 7.4% lebih tinggi dari laki-laki yang masih 4.7% sebagaimana data juga menunjukkan bahwa secara keselutuhan angka prevalensi depresi meningkat sebesar 6.1%. Hal ini menjadi sebuah perhatian tersendiri untuk pemerintah nantinya guna menangani permasalahan terkait kesehatan mental, khususnya perempuan. Merujuk dari hasil Harvard Study oleh McGinn (2018) terdapat beberapa faktor-faktor yang dinilai memepengaruhi kesehatan mental ibu, antara lain; keterbatasan informasi dan pengetahuan atas pentingnya kesehatan mental ibu dalam pengasuhan anak, stigma masyarakat atas peran ibu, low self worth pada ibu, fearness ibu terkait pengasuhan anak yang dibantu caregiver, serta keterbatasan finansial dan akses transportasi.

Baca Juga: Populisme Pandemi COVID-19 dan Bahaya Ketidakpatuhan Publik

Apabila dikaitan dengan stigma masyarakat di era digital ini yang membandingkan peran antara ibu pekerja dan ibu dirumah yang dianggap memberikan dampak pada pertumbuhan dan perkembangan anaknya ini dipatahkan melalui riset Harvard Study (McGinn, 2019) melalui survei selama 10 tahun pada lebih dari 100.000 anak dari 29 negara, termasuk Indonesia menunjukkan bahwa anak-anak dari pengasuhan ibu pekerja (working moms) sama bahagianya dengan pengasuhan ibu dirumah (stay at home mom). Terlebih dalam survei ini dikaitkan dengan kepuasan hidup (life satisfaction) dan kebahagiaan (happiness) yang dirasakan oleh remaja adalah sama.

Halaman:

Editor: Eggy Awang


Tags

Komentar

Artikel Terkait

Terkini

Pilkada di Tengah Pandemi Lanjut Apa Tunda?

25 September 2020, 12:30 WIB

Kekerasan Seksual Pada Anak

6 September 2020, 15:49 WIB

Celah Regulatif Pilkada Serentak

1 September 2020, 14:05 WIB

Menghilangkan Sifat Overthinking

6 Agustus 2020, 07:00 WIB

Jiwa Jawa dalam Karya Milenial

2 Agustus 2020, 14:04 WIB

Terpopuler

Terpopuler Pikiran Rakyat Network

X